Login

Username

Password



Not a member yet?
Click here to register.

Forgotten your password?
Request a new one here.

Semaju Apakah Pendidikan Tinggi Bagi Penyandang Disabilitas di Amerika?

NewsPertanyaan ini tentunya banyak diajukan oleh para pemerhati masalah pendidikan untuk penyandang disabilitas di Indonesia ketika bertemu dengan seorang penggiat masalah pendidikan bagi penyandang disabilitas dari Amerika Serikat seperti Scott Lissner. Scott Lissner adalah ADA Coordinator & 504 Compliance Officer of The Ohio State University and President of the Association on Higher Education and Disability, yang dihadirkan dalam sebuah acara diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Helen Keller International-Indonesia, bertempat di @america, Pacific Place Mall, Level 3 pada kamis, 24 September 2013 yang lalu. Diskusi ini mengambil tema "Promoting and Advocating for Dissability Rights", dengan dimoderatori oleh Tolhas Damanik, M. Ed selaku Direktur Eksekutif Yayasan Wahana Inklusif Indonesia.

Mengawali diskusi tersebut Scott memaparkan sejarah pergerakan masyarakat penyandang disabilitas di Amerika Serikat dalam mencapai pemenuhan hak-hak mereka di bidang pendidikan. Scott menyampaikan bahwa kemajuan pemenuhan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas di Amerika bukanlah mudah, karena perjuangan tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan harus menghadapi tantangan yang sama dengan negara lainnya, seperti masih kuatnya stigma negatif dari masyarakat. Scott menggarisbawahi bahwa perjuangan penyetaraan hak ini hanya bisa terjadi ketika penyandang disabilitas mau menyuarakan aspirasinya dan mau menggandeng semua fihak seperti kalangan pemerhati, orang tua, pemerintah dan wakil rakyat untuk berjuang bersama. Turut menjadi pembicara dalam diskusi tersebut adalah Emilia Kristiyanti, selaku National Program Manager untuk program Opportunities for Vurnerable Children (OVC), sebuah program dari Helen Keller International-Indonesia yang disponsori oleh USAID, yang telah memfokuskan kegiatannya pada rintisan dan pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya di 6 propinsi dampingan mereka. Emilia berbagi pengalaman terkait upaya OVC selama kurang lebih 10 tahun dalam bekerjasama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, dalam mewujudkan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia. Emilia mengungkapkan bahwa telah banyak kemajuan berarti dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia seperti lahirnya berbagai kebijakan di tingkat Nasional sampai dengan Kabupaten/Kota, serta semakin banyaknya sekolah-sekolah yang mau menyelenggarakan pendidikan inklusif dan menerima ABK.

Namun demikian, tantangan pun masih tetap ada seperti masih dibutuhkannya sosialisasi yang lebih gencar kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi ABK dan peningkatan kemampuan para guru dalam menangani ABK. Scott dan Emilia secara bergantian menjawab pertanyaan dari peserta diskusi, yang banyak bertanya seputar fasilitas yang akses yang dapat dinikmati penyandang disabilitas baik di Amerika maupun di Indonesia, serta seputar perkembangan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Amerika maupun di Indonesia. Dalam kalimat penutup Scott berpesan agar penyandang disabilitas di Indonesia harus tetap berjuang dan bersuara dalam meraih hak-hak mereka, sama seperti yang dilakukan oleh para penyandang disabilitas di Amerika dan di banyak negara di dunia.
Render time: 0.03 seconds
79,919 unique visits